Memori dan Uang
Siapa sangka selembar foto jadul jaman kuliah bisa membangkitkan selera sentimentilku yang jarang-jarang muncul. Selembar foto saja bisa menyeret-nyeret ratusan penggalan memori lainnya yang serta merta membawaku meloncat-loncat dari satu momen ke momen lainnya, seperti memutar film lama, lengkap dengan nuansa warna kecoklatan untuk semakin meresmikan sebuah kejadulan.
Dan siapa bilang cuman film yang berhak berjudul ‘mendadak dangdut’? Jangan salahkan aku ketika wajah inipun bisa ’mendadak senyum’ lalu ’mendadak sedih’ dan bisa tiba-tiba ’mendadak diam’ juga tak lupa ’mendadak manyun’ , semua ekspresi itu asli dan tulus, tanpa niat ingin mencatut kepopuleran judul film diatas. Semua gara-gara sederet foto jadul lainnya. Semuanya serasa membekapku dalam memori masa lalu. Terperangkap. Tapi tak ingin pergi.
Bisa jadi itulah ekspresi biasa manusia ketika dihadapkan pada memori.Tentu saja banyak ekspresi lain yang belum disebutkan, mengingat manusia adalah makhluk sejuta aksi. Hanya berekspresi? O-ho, tentu saja tidak kawan-kawanku, tidak hanya berhenti sampai disitu. Sadar atau nggak, kita adalah makhluk yang punya kesempatan belajar dari memori kita.
Bahkan kalo dipikir-pikir, semua tingkah laku kita adalah respon dari memori yang kita punya. Bukankah respon ’memakai jaket’ adalah berdasarkan pada memori sedetik lalu yang mengatakan ’badanku dingin’?.
Terlepas seberapa jauh suatu kejadian atau pengalaman yang terekam dalam memori, dan apakah itu respon otomatis ataupun ’respon yang dipikir’ yang keluar, tetep aja, kita punya kesempatan untuk belajar dari memori, dan memang, kita bisa belajar karena ada memori...ya nggak? Namun tentu saja, yang namanya ’belajar’ adalah sebuah pilihan. Nggak semua orang bisa menghargai memori. Banyak orang hanya butuh memori untuk sekedar mengenang saja, tidak untuk menelaah lebih dalam. Dan tentu saja, bagi sebagian lainnya, memori dapat berubah menjadi arsip-arsip penting ilmu pengetahuan, politik, budaya yang bisa mengubah peradaban manusia. Tak ketinggalan, di tangan-tangan lainnya memori dapat dikemas sedemikian rupa sehingga dapat dinilai dengan pundi pundi uang. Gak percaya?
Liat aja betapa sukses acara TV yg bertajuk ’empat mata’ yang ’menjual’ memori para artis ternama dan tokoh terkenal. Yah tentu saja kesuksesan acara ini tak lepas dari kelihaian bang Tukul sendiri mengemas acara. Sebelum Tukul beraksi melalui empat matanya, sudah banyak acara-acara TV sejenis seperti Ceriwis atau Dorce Show. Semuanya menjual memori.
Terkadang, asem manis memori orang bisa jadi adalah hiburan bagi yang lain.
Ironis? Nggak juga sih, tergantung dari sudut mana kita memandangnya *lho opo tho, diplomatis banget..*
Sekali lagi, adalah pilihan masing-masing individu untuk bersikap terhadap memori, baik miliknya atau orang orang lain.
Kasus yang lebih ekstrim bagaimana memori bisa dijual untuk menghasilkan uang adalah rekaman video pornografi. Video gak senonoh, yang mungkin adalah memori pribadi seseorang, bisa dijadikan ajang pemerasan jika memori itu jatuh ke tangan orang lain. Contohnya, videonya Yahya Zaini yang ditengarai beredar karena adanya motif pemerasan.
Untuk kalangan pemikir dan ilmuwan, memori bisa diwujudkan dari konsep maya ke benda nyata sebenarnya. Perpaduan teknologi dan bisnis telah melahirkan memori dalam bentuk benda nyata dengan nama standar yang familiar di glodok seperti RAM, hardisk, flashdisk dan lainnya. Ini semakin membuktikan bahwa memori sangat bisa dikomersilkan *wah mulai ngawur*
Tak lupa bagi anda barudak bandung, contoh nyata memori yang menghasilkan uang adalah berdirinya sebuah bangunan wartel berjudul ’Memori’ di dekat pasar simpang dago. Pas jaman kuliah dulu, pernyataan ’Aku ke memori’ adalah indikasi bahwa akan ada perputaran uang memalui penjualan jasa koneksi PSTN.
Memori memang benar-benar bisa dijadikan lahan bisnis....*yah, seperti biasa, kesimpulan konyol. Atau mungkin hanya sampel contohnya yang gak mutu? :P*
@Makassar, 26 april
NB: Memori dan Uang, tersinspirasi karena gaji bulan ini gak keluar...hahaha. Menyedihkan.
