Memori dan Uang

Siapa sangka selembar foto jadul jaman kuliah bisa membangkitkan selera sentimentilku yang jarang-jarang muncul. Selembar foto saja bisa menyeret-nyeret ratusan penggalan memori lainnya yang serta merta membawaku meloncat-loncat dari satu momen ke momen lainnya, seperti memutar film lama, lengkap dengan nuansa warna kecoklatan untuk semakin meresmikan sebuah  kejadulan.

Dan siapa bilang cuman film yang berhak berjudul ‘mendadak dangdut’? Jangan salahkan aku ketika wajah inipun bisa ’mendadak senyum’ lalu ’mendadak sedih’ dan bisa tiba-tiba ’mendadak diam’ juga tak lupa ’mendadak manyun’ , semua ekspresi itu asli dan tulus, tanpa niat ingin mencatut kepopuleran judul film diatas. Semua gara-gara sederet foto jadul lainnya. Semuanya serasa membekapku dalam memori masa lalu. Terperangkap. Tapi tak ingin pergi.

Bisa jadi itulah ekspresi biasa manusia ketika dihadapkan pada memori.Tentu saja banyak ekspresi lain yang belum disebutkan, mengingat manusia adalah makhluk sejuta aksi. Hanya berekspresi? O-ho, tentu saja tidak kawan-kawanku, tidak hanya berhenti sampai disitu. Sadar atau nggak, kita adalah makhluk yang punya kesempatan belajar dari memori kita.

Bahkan kalo dipikir-pikir, semua tingkah laku kita adalah respon dari memori yang kita punya. Bukankah respon ’memakai jaket’ adalah berdasarkan pada memori  sedetik lalu yang mengatakan ’badanku dingin’?.

Terlepas seberapa jauh suatu kejadian atau pengalaman yang terekam dalam memori, dan apakah itu respon otomatis ataupun ’respon yang dipikir’ yang keluar, tetep aja, kita punya kesempatan untuk belajar dari memori, dan memang, kita bisa belajar karena ada memori...ya nggak? Namun tentu saja, yang namanya ’belajar’ adalah sebuah pilihan. Nggak semua orang bisa menghargai memori. Banyak orang hanya butuh memori untuk sekedar mengenang saja, tidak untuk menelaah lebih dalam. Dan tentu saja, bagi sebagian lainnya, memori dapat berubah menjadi arsip-arsip penting ilmu pengetahuan, politik, budaya yang bisa mengubah peradaban manusia. Tak ketinggalan, di tangan-tangan lainnya memori dapat dikemas sedemikian rupa  sehingga dapat dinilai dengan pundi pundi uang. Gak percaya?

Liat aja betapa sukses acara TV yg bertajuk ’empat mata’ yang ’menjual’ memori para artis ternama dan tokoh terkenal. Yah tentu saja kesuksesan acara ini tak lepas dari kelihaian bang Tukul sendiri mengemas acara. Sebelum Tukul beraksi melalui empat matanya, sudah banyak acara-acara TV sejenis seperti  Ceriwis atau Dorce Show. Semuanya menjual memori.

Terkadang, asem manis memori orang  bisa jadi adalah hiburan bagi yang lain.

Ironis? Nggak juga sih, tergantung dari sudut mana kita memandangnya *lho opo tho, diplomatis banget..*

Sekali lagi, adalah pilihan masing-masing individu untuk bersikap terhadap memori, baik miliknya atau orang orang lain.

Kasus yang lebih ekstrim bagaimana memori bisa dijual untuk menghasilkan uang adalah rekaman video pornografi.  Video gak senonoh, yang mungkin adalah memori pribadi seseorang, bisa dijadikan ajang pemerasan jika memori itu jatuh ke tangan orang lain. Contohnya, videonya Yahya Zaini yang ditengarai beredar karena adanya motif pemerasan.

Untuk kalangan pemikir dan ilmuwan, memori bisa diwujudkan dari konsep maya ke benda nyata sebenarnya. Perpaduan teknologi dan bisnis telah melahirkan memori dalam bentuk benda nyata dengan nama standar yang familiar di glodok seperti RAM, hardisk, flashdisk dan lainnya. Ini semakin membuktikan bahwa memori sangat bisa dikomersilkan *wah mulai ngawur*

Tak lupa bagi anda barudak bandung, contoh nyata memori yang menghasilkan uang adalah berdirinya sebuah bangunan wartel berjudul ’Memori’ di dekat pasar simpang dago. Pas jaman kuliah dulu, pernyataan ’Aku ke memori’ adalah indikasi bahwa akan ada perputaran uang memalui penjualan jasa koneksi PSTN. 

Memori memang benar-benar bisa dijadikan lahan bisnis....*yah, seperti biasa, kesimpulan konyol. Atau mungkin hanya sampel contohnya yang gak mutu? :P*

@Makassar, 26 april

NB: Memori dan Uang, tersinspirasi karena gaji bulan ini gak keluar...hahaha. Menyedihkan.

Aku Patah Hati

Sudah lama gak nulis-nulis.

Aku di sebelah jendela. Bukan cuma air yang bisa  mengalir. Saat ini, angin mengalir. Meski tanpa AC,ruang kos ini bisa sesejuk gunung. J

Aku patah hati. Kata-kata singkat yang butuh penjelasan panjang. Ceritaku tak semenarik novel, tapi mungkin lebih  indah daripada berita kriminal yang banyak ditemui di koran pagi.

Tersebutlah seorang pemuda yang menjadi tokoh utama. Sekarang hidup di jakarta, sebut saja pemuda itu : ’diriku’. Pemuda ini mempunyai teman wanita, sebut saja : ’dirinya’. Dirinya juga hidup di jakarta. Teman kantor diriku. Dan tolong diralat, diriku dan dirinya belumlah jadi teman. Diriku belum kenal dirinya. Dirinya pun tak tahu siapa nama diriku.

Pertama kali diriku melihat dirinya, diriku merasa dirinya mampu menghentikan waktu. Terlalu dramatis ya?, baiklah, bukan menghentikan, tapi memperlambat waktu. Masih terlalu berlebihan? Jangan protes, seseorang bisa menjadi ’gila’ ketika sedang jatuh cinta. Dan jangan geli sendiri kenapa kalian sekarang bisa membaca tulisan orang gila. Untuk sejenak biarkan aku tawarkan nuansa rumah sakit jiwa disini. Karena itu, jangan pakai logika, cukuplah menahan tawa jika ada yang aneh di beberapa bagian cerita. Satu lagi, karena nama tokoh ’diriku’ dan ’dirinya’ dirasa terlalu panjang, baiklah, kita pakai singkatan penggantinya, ’aku’ dan ’dia’. Tapi jangan salahkan aku jika ’diriku’ atau ’dirinya’ masih kerap muncul, aku tak sedang mencoba menerapkan bahasa indonesia yang baik dan benar disini.

Sampai mana tadi? Oh ya, dia bagai ksatria dalam film ’matrix’ bagiku. Kehadirannya bisa memperlambat gerak peluru. Bisa membuatku merasa sanggup meloncati gedung-gedung. Dan tentu saja, membuatku menjadi manusia super dengan kekuatan sejuta kuda. aku bahkan bisa berpindah dunia. Dari dunia maya ke dunia nyata sebenarnya, dunia penuh bunga-bunga. Beginikah berbahayanya cinta?

Tapi diriku tetaplah diriku yang dulu. Yang harus berpikir seribu kali ketika jatuh cinta. Menimbang ratusan berkas-berkas kelebihan dan kekurangan, meneliti neraca rugi laba jika benar aku mencintai dia. aku membuat cinta begitu pemilih, begitu logis.  Membuat semuanya rumit bahkan sebelum kujalani. dan seperti biasa, hanya menjadikanku sebagai pengagum rahasia, tanpa pernah menjadi ksatria sesungguhnya. Aku benar-benar menyukainya, tapi aku hanya tak bisa membayangkan aku jatuh cinta pada dirinya. Bagiku, dirinya hanya bunga. Ada berjuta-juta di dunia.

Dan baiklah, waktu memang bisa mengubah segalanya. dari berjuta bunga, beberapa telah mengisi hatiku. Datang dan pergi. aku pengagum rahasia yang  terlena. aku fans yang tak pernah lagi mengingat idolanya. Namun waktu tak bisa membunuh cinta begitu saja. Cuma membeku. Bom waktu. Masih aktif.

Datang juga hari itu. Hari dimana dia mencairkan kebekuan dengan pandangan matanya. Tanpa kata, hanya pandangan seindah pagi, sehangat matahari, seterang bulan di malam hari. Dia memercik api. Jantungku merasakan sensasi bom aktif. Tik tak tik tak, siap meledak kapan saja. Kemanakah kularikan perasaan ini? Dunia tak cukup untukku bersembunyi.

Percuma bagiku untuk berlari. Lebih baik kuhadapi. Baju perang, pedang panjang, akulah ksatria berkuda dengan otak setengah gila. Mari berperang. Kubawa semua amunisi lamaku : setumpuk keberanian. Tapi tunggu, aku telah berkali-kali berperang dan jangan bayangkan aku gegabah dengan menyerang secara frontal. Tiap jenderal punya strategi perang. Dan akhirnya kupakai strategi kuno yang sangat terkenal : tanya info tentang dia ke teman dekatnya. Kenali medan pertempuran anda, kenali musuh anda, maka anda akan lebih mudah menaklukkannya, itulah bahasa perangnya...*oh betapa kunonya cara ini*

Siapa bilang strategi kuno selalu berhasil? Aku adalah contoh kegagalan strategi kuno itu. Info yang didapat dari agen rahasia menyebutkan : Dia sudah bertunangan. Tiga kata yang cukup untuk menghentikan perang. ‘Dia sudah bertunangan’, bisa diartikan dengan ‘dia punya bom nuklir’ dalam bahasa perangnya. Ksatria berkuda ini tak sanggup melawan bom nuklir seperti itu. Musuh ternyata punya kekuatan lebih canggih. Senjata modern yang tak akan bisa dilawan oleh pengganggu-pengganggu seperti ksatria berkuda yang hanya bermodal keberanian. Menyesal aku memakai cara kuno itu. Info itu tak penting bagiku. 

Dan apalah yang menyedihkan daripada ksatria perang yang tak jadi berperang? Patah hati sebelum mengenalnya. Sungguh menyedihkan. sebenarnya ksatria berkuda masih menyimpan senjata rahasia yang mungkin bisa melawan keganasan bom nuklir. Senjata itu berbentuk sebuah kuda-kuda berjudul ‘jurus muka baja’. Dengan jurus ini dijamin ksatria berkuda bakal merasakan muka setebal tembok yang bisa mengalihkan pengaruh bom nuklir meski bom itu terus mengikis jiwa ksatria berkuda. Ksatria berkuda seakan-akan tak merasakan apa-apa, melupakan keadaan sekelilingnya dan terus maju berperang, mencoba menaklukkan musuh. Tak peduli dia sudah bertunangan atau tidak. Selama janur kuning be..*halah, lagi-lagi legenda pepatah kuno..stop. kalian pasti tahu kelanjutan pepatah tadi*

Ksatria berkuda terdiam beberapa hari. Otaknya tak bisa berpikir meski ia paksa berpikir. tubuhnya tak ingin lari meski jiwanya merasa terancam. Dia inginkan perang. Pada suatu detik, dengan mata berkilat kilat, Ksatria berguman, ‘Mungkin aku hanya akan menjadi ujian cinta baginya. Itu lebih baik daripada dia menganggapku tak ada...’ lalu dia mengangkat pedang panjang, melajukan kuda sekencang-kencangnya, berteriak sekerasnya, tangisan tanpa air mata....menuju hulu ledak nuklir....

To be continued....

Kaderisasi ala Mbah Lah

Namanya Mbah Lah, salah seorang pembantu di tempat kosku saat ini. Dia datang dari desa, kalau nggak salah dari suatu daerah terpencil di kebumen. Mbah Lah sudah tua, mungkin umurnya sekitar 60-an lebih. Namun jangan bayangkan mbah Lah sebagai manula yang lamban kerjanya. Mbah Lah enegik lho, dengan tubuh kecilnya itu dia sangat cepat mengerjakan pekerjaan seperti nyapu, masak, dan lain-lain. Gerakannya sangat gesit meski sekedar berpindah koordinat dari nonton TV di ruang tengah, kemudian hinggap ke  ruang depan membuka pintu(kalau ada tamu atau anak kos pulang) lalu kembali ke dapur meneruskan prosesi masak memasaknya, lalu duduk lagi nonton TV. Semuanya dilakukan setengah berlari. :)

Awalnya sih wajar-wajar saja, namun lama kelamaan ada yang mengganjal juga ketika memperhatikan mbah Lah. Ada yang menarik. Meski sudah berumur, mbah Lah masih kelihatan kekanakan. Gerakannya ketika berjalan kadang lucu, mirip anak kecil yang sedang berjalan, menoleh kanan kiri sambil mengayun kaki seperti sedang berdendang. Mbah Lah suka tersipu-sipu ketika ngobrol dengan ibu kos. Entah karena dipuji atau dimarahi. Mirip aku dulu waktu SD ketika disuruh maju ke depan kelas, entah untuk bernyanyi atau dihukum karena menjahili teman sebangku. Kemarin, ketika ibu kos ngasih sesuatu untuk dibagi, pembantunya yang dua orang dipersilahkan untuk mengambil bagiannya masing-masing. Setelah beberapa lama, entah karena lupa, ibu kos kembali mempersilahkan pembantunya untuk mengambil lagi bagiannya. Hanya mbah Lah yang dengan antusias mengambil bagiannya lagi. Tak lama kemudian ibu kos sadar, sisa barangnya tak wajar, dan ketika mbah Lah ditanya, mulanya mbah Lah nggak ngaku, tapi kemudian senyam-senyum, tersipu-sipu, tertawa kecil, lalu mengaku ngambil dua kali sambil tertawa-tawa. Yang lucu, intonasi kata-katanya itu lho, ya ampun, mirip anak kecil. Begini kira-kira : "kan katanya...(terhenti agak lama, sambil senyam-senyum, salah satu kakinya bergerak-gerak ke belakang)...disuruh ngambil laaagiiii..."(dilanjutkan dengan tawa haha-hehe). Aku mungkin nggak sempurna menggambarkan tingkah mbah Lah saat itu, yang jelas, kejadian itu membuat mulutku tersenyum namun hatiku tercekat karena iba...

Entah jiwa apa yang terperangkap dalam tubuh renta mbah Lah. Aku hanya mengira-ngira mungkin mbah Lah tak pernah bisa menjadi dewasa atau menjadi orang tua sesungguhnya. Mungkin karena seumur hidup mbah Lah dipakai untuk mengabdi. Mbah lah tak sempat menjadi orang lain selain 'pembantu'. Mbah Lah seperti menjalani kaderisasi seumur hidup dengan kewajiban dan wawasan sebagai pembantu,pembantu dan pembantu. Akibatnya, mbah Lah adalah orang dengan wawasan yang sama dengan mbah Lah sepuluh, duapuluh, bahkan limapuluh tahun yang lalu ketika mbah Lah benar-benar masih kanak-kanak dan sudah jadi pembantu. Mungkinkah?

Aku jadi teringat betapa militer sangatlah sukses dengan proses cuci otaknya dengan menerapkan sistem latihan dan menancapkan wawasan yang dianggap perlu dan kemudian mengulangnya secara terus menerus setiap harinya. Hasilnya, gelagat, pandangan, dan wawasan para tentara cenderung sama, berkat kaderisasi beberapa tahun saja. Juga dulu, jaman kuliah, saat ospek digelar. Pada saat itu betapa aku sangat merasa ada pandangan, wawasan, nilai-nilai yang dimasukkan secara paksa ke dalam 'frame' berpikirku, dan setelah dua semester, akhirnya akupun terbiasa. Kebenaran adalah apa yang Seniro(Senior Elektro-red) katakan dan perintahkan. Tak ada lagi protes, dan berharap semuanya cepat selesai.

Mungkinkah mbah Lah juga begitu? tak bisa lagi protes pada keadaan, tak bisa lagi menuntut pada kehidupan untuk sekedar menikmati peran lain? lalu akhirnya mbah Lah pun menyerah, menjalani saja dan berharap semuanya cepat selesai, yang sayangnya, berbeda dengan tentara yang punya pensiun, dan ospek yang hanya setahun, 'selesai' bagi mbah Lah mungkin berarti tak lagi menikmati nafas.

Semoga ini salah. Semoga aku hanya melihat sedikit sisi dari mbah Lah saja, karena setauku pembantu lain tak seperti mbah Lah. Semoga ada sisi lain mbah Lah yang tak aku lihat dimana  dia menjadi orang tua yang bijaksana, sarat pengalaman pahit manisnya hidup.

semoga ini salah...

eh, aku juga nggak bisa mbayangin kalo misalnya sudah tua nanti, rambut putih, jalan nggak lancar,gigi gak lengkap,  tapi masih saja suka FS-an, ngisi testi lucu-lucu, chating gak jelas sumbu topiknya, nonton doraemon, dragon ball-z, maen WE....aduh!
*sambil dengan sigap mengemasi komik-komik conan, botol susu milkuat kecil, kemudian ketawa ala pahlawan bertopeng-nya sinchan :P*

Metro memang untuk Anda

Hari minggu kemarin aku mengamati sesuatu yang biasa tapi bagiku akhirnya jadi nggak biasa. Sesuatu itu adalah ulang tahun sebuah stasiun teve swasta bernama Metro TV (selanjutnya kusebut Metro aja-red). Biasa, karena sebagai sebuah stasiun teve, wajar kalo tiap tahunnya bakal mengemas acara-acara spesial di hari ulangtahunnya. Nggak biasa, karena berbeda dengan stasiun teve lain yang kuamati (tapi nggak betul-betul ngamati kok, cuman sepintas lalu) Metro justru menawarkan acara-acara yang jauh lebih bermutu daripada sekedar acara hura-hura. Sebenarnya aku nggak tau apakah hari minggu itu hari ultah Metro atau nggak, yang jelas acara hari itu masih masuk dalam serentetan acara spesial menyambut ultahnya.

Bagiku, mengutip analogi dari seuriueus band, bahwa stasiun teve juga manusia, punya rasa punya hati, maka Metro teve termasuk dalam kategori 'dewasa' dibanding rekan-rekan seprofesinya yang lain. Alih -alih mengedepankan konser-konser musik penuh goyangan segala posisi, Metro memilih menampilkan acara "Orang-orang yang mencintai Indonesia", yang bagiku sangat menggugah semangat. Juga mengangkat perbincangan tentang emansipasi wanita, 'Hot News' spesial, dan biografi Bill Gates menggantikan acara lawakan dan quiz 'Anda Telpon Uang diTangan' yang semakin musim. Juga tak ketinggalan acara perbincangan wakil presiden dengan pengusaha tionghoa yang sangat membuka wawasan (dikit sih, soalnya gak begitu ngerti..:P)

Satu lagi, Metro dengan berani memilih slogan yang menurutku sangat 'menyentuh' sekaligus 'memotivasi' yaitu "Save our Nation". Bandingkan dengan rekan-rekan stasiun lain yang memilih slogan-slogan yang lucu-lucu, seperti "makin asik aja" atau "memang untuk Anda" atau juga cukup satu kata yang nggak jelas maknanya seperti "Oke". Bagiku slogan Metro lebih mementingkan sisi kesesuaian dengan keadaan kita saat ini, Indonesia yang babak belur sana-sini, dan butuh pertolongan dari rakyatnya sendiri (lha wong negara lain nggak niat nolong kok, cuman ngutangin duit dengan pamrih lebih besar). Lagi-Lagi ini adalah bentuk kedewasaan dibanding yang lain, yang masih memrioritaskan dampak ekonomis dan kepopuleran dibalik pemilihan slogan.

Tapi nggak selamanya acara di stasiun teve lain itu bagus jelek. Banyak juga acara bermutu di stasiun teve lain. Nggak selamanya pula acara-acara di Metro itu bagus. Minimal aku jadi lebih nyadar kalau stasiun teve lain masih lebih fokus ke sisi entertainment ketimbang nilai yang lain. Minimal itu tercermin ketika acara-acara ulang tahun digelar. Metro, menurutku punya fokus lain, terutama sisi pembangunan bangsa yang diangkat, selain penyampai berita, penyambung dan penyampai opini massa. Akhirnya seperti halnya segala sesuatu di dunia ini yang serba berwarna, nggak mungkin kalau semua hal itu bagus dan baik, ada baik ada jelek, ada hitam ada kuning, ada mengkilat ada yang burem. Dan untuk sesuatu yang lebih baik dibanding yang lain, layaklah kita memberikan penghargaan. Bravo Metro!

Selamat jalan handphone kelimaku

Kita kadang merasakan pentingnya suatu barang justru ketika barang itu nggak ada. Tapi pepatah itu nggak cocok dengan barang bernama handphone (HP). Minimal buatku akhir-akhir ini. Aku jelas merasakan barang itu sangat penting, karena tiap waktu kutunggu deringan nada panggilnya, siapa tahu itu telpon dari perusahaan tempatku mendaftar jadi karyawan. Gara-gara profesi sebagai jobseeker itu pulalah, HP ku selalu berdomisili tak jauh dari diriku. keberadaan HP tiba-tiba menjadi sangat penting sebulan ini. Di benda mungil itulah, kugantungkan harapan akan datangnya kabar gembira yang bisa jadi mengubah alur hidupku. Hampir tiap jam kusempatkan menyentuh benda itu, siapa tahu aku melewatkan sesuatu. Intinya, HP itu penting, penting, penting...justru saat dia ada. 

Aku tak habis pikir, bagaimana bisa ada orang yang begitu tega memisahkanku dari benda kecil itu di masa-masa sulit seperti ini. Seperti halnya Cinta, maling pun bisa saja buta dan tak mengenal logika. Atau memang itulah fitrah maling pada umumnya.

Sebenarnya aku bingung apakah harus memuji kelihaian maling ini atau mengumpati keteledoranku sendiri. Asal tau aja, ini HP kelimaku yang ilang. Sedikit menilik sejarah, HP keempatku pun raib dengan cara yang sama, di kamar yang sama, di samping tempat tidur yang sama, di jam yang nggak jauh berbeda. Di kedua kejadian itu, sebenarnya aku pun ada di tempat kejadian perkara, tertidur dengan pulasnya.

Yang pasti, semua ada hikmahnya. Dan baiklah, aku pun setuju kalo faktor kecerobohan pribadi yang berperan besar dalam hilangnya HP ku kali ini. Aku memang ceroboh, tiga kali kehilangan Kartu Tanda mahasisawa, Tiga kali kehilangan SIM dan STNK, bahkan aku juga pernah menghilangkan STNK sementara pengganti STNK asli yang belum jadi dibikin. Lima kali kehilangan HP, tiga kali dicuri, dan dua kali jatuh pas naek motor :D.

"bahkan keledaipun tak akan jatuh di tempat yang sama untuk kedua kalinya" hahaha

okelah, mungkin aku lebih bodoh dari keledai, tapi keledai juga kan nggak bisa bertanggung jawab dengan bikin surat laporan kehilangan ke polisi, trus berangkat ke galeri indosat buat mblokir nomor yang ilang...:P

sudahlah,
hari ini melelahkan

    

Nulis nulis

Akhirnya setelah sekian lama, tergerak juga hati ini untuk nulis-nulis di kolom pribadi yang namanya blog ini, hehehe. Bukan apa-apa, emang lagi "jarang" kerjaan. Lumayanlah, udah satu setengah bulan jadi jobseeker, kerjaan per hari paling mondar-mandir ke cdc (penyalur tenaga kerja di kampus), nge-browse jobsdb.com, nyari info ke temen, nanya-nanya standar gaji, dan yang paling kubenci : pake pakaian rapi plus dasi buat ikutan psikotes atau wawancara, puehh...

Alur hidup memang aneh, kadang kita harus menjalani satu sesi hidup untuk sadar dan memulai sesi yang lain, contohnya, aku  harus merasakan bagaimana bosennya jadi joobseeker dulu barulah jadi pingin nulis-nulis blog kayak gini... :D(apaan sih?)

Tapi pada dasarnya, dari hati yang terdalam, aku sadar bahwa budaya nulis itu penting. Minimal kalo kita nulis blog, masih ada potongan-potongan pengalaman yang bisa dijadiin cermin, entah kapan, di masa depan :).  Dan siapa tau blog yang kita buat jadi terkenal, misalanya, kita jadi korban pembunuhan, nah, jadinya banyak yang baca tuh ntar :P, dan pasti membantu pak polisi dalam penyidikan, juga mengobati kerinduan keluarga yang ditinggalkan. Dan tentu saja, saya persilahkan rekan-rekan sekalian berkhayal demikian, kalo aku, tentu saja dengan segenap jiwa berdo'a tidak mengalami hal seperti itu. 

Akhirnya setelah prolog yang singkat dan gak jelas ini, penulis mengucapkan, selamat datang di blog saya, kalo kata keset-keset di hotel : " welcome" lah. Selamat menikmati  warna-warni cahaya.